Archive for May, 2007

TGIF (2)

gw hampir berpapasan dengan seorang cowok siang barusan. gw suka melihat wajahnya.. kayaknya adem gt. ;)

sederhana dan gak neko2 kayaknya…. *meski kadang penampakan suka menipu.. :p*

gw sempet memandangi dari jarak yang gak begitu jauh.. tapi terhalang oleh kaca. secara gw lagi ngobrol ama temen di tempat kerjanya. dan dia sedang ngantri di depan atm. hihihi.

wajahnya adem, tenang?

mungkin karena tuh cowok baru abis jumatan yak? hehehe.. masih seger dan masih nempel cahaya dari wudhu sholat jumatnya. kekekek.. :p.

siapa dia ya? ;)

No comment »

TGIF

JANUARY = SHYNESS 

Fun to be with.

Loves to try new things.

Boy/girls LOVE you.

You are very hott.

Secretive.

Difficult to fathom and to be understood.

Quiet unless excited or tensed.

Takes pride in oneself.

Has reputation.

Easily consoled.

Honest.

Concerned about people’s feelings.

Tactful.

Friendly.

Approachable.

Emotional temperamental and unpredictable.

Moody and easily hurt.

Witty and sparkly.

Spazzy at times.

Not revengeful.

Forgiving but never forgets.

Dislikes nonsensical and unnecessary things.

Guides others physically and mentally.

Sensitive and forms impressions carefully.

Caring and loving.

Treats others equally.

Strong sense of sympathy.

Wary and sharp.

Judges people through observations.

Hardworking.

No difficulties in studying.

Loves to be alone.

Always broods about the past and the old friends.

Waits for friends.

Never looks for friends.

Not aggressive unless provoked.

Loves to be loved.

Easily hurt but takes long to recover.

Repost this in the next 5 mins  and your reputation will boost someway in the next 12 days…

No comment »

Cyberchondriac

Apakah Anda Mengidap Cyberchondriac?

Lathiefa Nur Ilma - Cyberlife

Jakarta - Ini adalah penyakit aneh yang berhubungan dengan Internet. Penyebabnya bukan virus atau bakteri, namun justru karena perilaku pasien itu sendiri.

Istilah cyberchondriac dipakai untuk menjuluki para pengidap hipokondria yang begitu getol berjelajah informasi di Internet. Hipokondria adalah orang-orang merasa dirinya mengidap penyakit parah dan bereaksi berlebihan terhadap penyakitnya.

Pengidap cyberchondriac selalu mencari tahu tentang penyakit dan penyebabnya di Internet. Bagi kelompok ini aktivitas online dapat menjadi pembunuh yang lebih kejam daripada penyakit itu sendiri. Di negara-negara maju, kelompok ini menunjukan jumlah yang signifikan.

Di Amerika Serikat misalnya, menurut penelitian Pew Internet, lebih dari 7 juta orang Amerika online setiap harinya hanya untuk meneliti kesehatan atau mengetahui informasi kedokteran. "Mereka disebut ‘cyberchondriac’ dan kelompok ini adalah orang-orang dengan hipokondria yang memiliki obsesi kompulsif kuat terhadap gejala-gejala penyakit yang mereka rasakan," ujar Dr. Brian Fallon dari Universitas Columbia, seperti dikutip detikINET dari ABCNews, Senin (21/5/2007). Sembilan puluh persen pengidap hipokondria dengan akses Internet, menurut Fallon, menjadi cyberchondriac.

"Cyberchondria bisa menjadi penyakit yang menghancurkan karena pengidapnya hanya terfokus pada gejala-gejala mereka. Mereka akan terus mencari sumber gejala itu di Internet dan hal inilah yang menghancurkan hidup mereka," ujar Fallon.

Terobsesi Dengan Penyakit Adalah Lee Gardon, seorang pria berusia 47 tahun yang kini telah pulih dari cyberchondriac. Awal mulanya, Gardon tidak bisa mempercayai hasil uji kesehatannya yang dinyatakan baik. "Saya memiliki gejala tertentu. Bisa saja itu sakit otot biasa atau kumpulan penyakit. Dan akhirnya saya menjelajahi Internet untuk mencari jawabannya," ujar Gardon.

Gardon mengaku dirinya akan terus mengakses Internet selama hampir 4 jam sehari hanya untuk mencari jawaban tentang gejala yang muncul dalam dirinya. Saat itu ia berpikir ia terkena gejala penyakit jantung atau penyakit yang lebih parah.

Penyakit cyberchondriac Gardon semakin bertambah buruk. Malam-malamnya diisi dengan perenungan tentang penyakitnya dan kadang terbangun di tengah malam hanya untuk kembali memeriksa gejala yang ia rasakan melalui Internet. Gardon kemudian pergi ke Columbia, AS untuk mendiskusikan penyakitnya dengan seorang dokter bernama Kelli Harding. Melalui kombinasi terapi dan pengobatan, Harding mengajari Gardon cara untuk mengelola pikiran dan serangan kegelisahannya. Dan pengobatan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Gardon secara sadar membatasi aksesnya ke situs-situs kedokteran online hanya 20 menit setiap harinya. Istri Gardon pun mulai merasakan hubungan rumah tangganya lebih baik dari sebelumnya. Namun Harding juga memperingatkan, dengan membanjirnya informasi kedokteran di Internet, apa yang dialami Gardon bisa juga menimpa siapapun yang memiliki kecenderungan mengidap hipokondria.

"Seperti film horor jika anda memiliki hipokondria di Internet karena anda ingin berpaling dari Internet namun anda tak bisa, dan semakin anda melihatnya semakin anda akan ketakutan," tutur dokter wanita tersebut. (lni)

Sumber: http://www.mobile3845.com/index.php?go=news.highlight&sub=high.

No comment »

aaarrrggghhh …. whoa!

hari-hari yang melelahkan…

cape dech… beneran.

mamah, maafin… aku ngerti.

aku memang perlu seseorang untuk menjaga.

tapi bukan aku tidak bisa menjaga diri sendiri

hanya saja … 

*apakah tetesan ini perlu? kurasa tidak!*

No comment »

sekedar mengingatkan (diri sendiri) saja (lagi) …

Hikmah Hari Ini:

Jika kamu ingin mengetahui seberapa besar cinta Allah padamu maka:
(1) Lihatlah volume cintamu kepada kalam-Nya, Yaitu Al-Qur`an, dihatimu.
(2) Seberapa besar volume kenikmatanmu dan keasyikanmu tatkala mendengar lantunan firman-Nya. Sudahkah keasyikan itu melebihi keasyikan para pecandu musik dan nyanyian tatkala nyanyian itu diperdengarkan? Sesungguhnya merupakan hal yg wajar, bahwa barang siapa yang mencintai kekasih, maka suara dan pembicaraannya adalah sesuatu yng di cintai. (Ibnu Qayyim)

No comment »

Uang dan Ilmu Bahagia

Uang dan Ilmu Bahagia

Ninok Leksono

"Sebagian arti hidup adalah untuk mengalami senang dan susah. Hidup yang terus-menerus bahagia bukanlah hidup yang baik." (George Loewenstein, Ekonom di Carnegie Mellon University) Satu hari, seorang rekan berseloroh, "Uang bukan segala-galanya, tetapi tanpa uang susah segala-galanya." Dalam ucapan yang mengundang senyum itu sesungguhnya terkandung falsafah atau kearifan hidup yang tidak saja mendalam, tetapi terasa aktual dan relevan. Terasa demikian barangkali justru karena kita menyaksikan perikehidupan masyarakat pada umumnya tak kunjung sejahtera, bahkan mungkin lebih buruk, sementara di pihak lain tidak sedikit pula pola hidup materialistis yang tampil menonjol, membuat uang seolah menjadi obsesi utama kehidupan.

Lalu, ketika uang yang amat diburu itu bisa diraih, benarkah bahagia datang mengiringi? Jawaban serta-merta tentu tidak kalau uang tersebut diperoleh dari praktik ilegal, dan badan pemburu seperti KPK lalu memperkarakannya. Namun, bagaimana kalau uang yang diraih tersebut halal? Pertanyaan kuncinya: "apakah dengan itu kebahagiaan akan serta-merta datang?" Pertanyaan ini secara tradisional masuk dalam wilayah psikologi dan dari waktu ke waktu terus menjadi topik riset.

Namun, setidaknya sejak tahun 2004 telah muncul jawaban kuat bahwa "uang tak bisa membeli kebahagiaan" (Matthew Herper, Forbes, 21/9/2004). Ketika seseorang yang membutuhkan tiba-tiba mendapat uang, memang saraf sukacita di otak akan bereaksi senang. Namun, kesenangan seketika tadi bagi sebagian besar orang tidak lalu menjadi kesenangan jangka panjang. Survei-survei yang pernah dilakukan mendapati bahwa tingkat kebahagiaan orang-orang superkaya yang masuk dalam daftar peringkat Forbes 400 lebih kurang sama dengan suku penggembala Maasai di Afrika Timur. Pemenang lotre pun akan kembali ke tingkat kebahagiaan semula setelah lima tahun. "Hubungan antara uang dan kebahagiaan ternyata kecil saja," ujar Peter Ubel, seorang guru besar kedokteran di Universitas Michigan, seperti dikutip Forbes. Tentu itu tidak bermaksud mengatakan bahwa penambahan penghasilan tidak ada artinya sama sekali.

Namun, ada survei yang hanya mencatat korelasi 1 persen saja antara kekayaan dan kebahagiaan. Para psikolog pun terus menyelidiki mengapa kekayaan tidak membawa perasaan senang yang terus-menerus. Satu kali diamati, pemenang lotre yang lalu berhenti bekerja dan membeli rumah bak istana, tetapi di tempat sepi tanpa tetangga, justru kesepian dan rasa tertekan yang ia peroleh, bukan kebahagiaan. Di sisi lain muncul pertanyaan, jangan-jangan manusia terlalu berlebihan memersepsikan kebahagiaan? Apalagi kalau dikaitkan dengan apa yang dikemukakan Loewenstein yang diangkat sebagai kutipan di awal artikel ini? Di luar pertanyaan kritis di atas, ada satu poin penting menyangkut hubungan antara uang dan kebahagiaan.

Menurut Ed Diener, peneliti di Universitas Illinois yang melakukan survei atas Forbes 400 dan suku Maasai, orang yang bahagia nantinya cenderung punya penghasilan lebih tinggi dalam hidup.

Jadi, meskipun uang mungkin tidak membantu manusia jadi bahagia, orang bisa lebih mudah mendapatkan uang kalau bahagia. Ke ekonom dan politisi Apabila penelitian di atas lebih terkait dengan pekerjaan psikolog, berikutnya para ekonom pun terpanggil untuk meneliti kaitan antara uang dan kebahagiaan. Ekonom pun kini menyadari bahwa uang tidak bisa membelikan kebahagiaan bagi seseorang. Dalam hal ini, ekonom, antara lain Andrew Oswald dari Universitas Warwick di Inggris, membandingkan data mengenai kekayaan, pendidikan, status perkawinan, dan hasil survei kebahagiaan.

Hasil survei menyebutkan, jika satu negara bisa menjadi cukup kaya-sekalipun masih jauh apabila dibandingkan dengan AS-maka pertumbuhan ekonomi lebih jauh mungkin tidak akan membuat warganya lebih bahagia lagi (Tim Harford, Forbes, 14/2/2006). Itu sebabnya, Oswald dalam satu kuliahnya berani mengatakan, "Sekali satu negara sudah bisa mengisi gudang pangannya, tidak ada poinnya negara tersebut jadi lebih kaya."

Sekali lagi muncul penegasan, seperti diungkapkan Will Wilkinson dari Cato Institute, Washington DC, bahwa "dalam setiap masyarakat, pada waktu kapan pun, orang lebih kaya lebih bahagia". Namun, hal itu sendiri tidak bercerita banyak tentang hubungan antara uang dan kebahagiaan. Terakhir, Newsweek (7/5/2007) menurunkan laporan utama "In Search of Happiness". Di sana dikemukakan pertanyaan penting, "mengapa politisi dan bahkan CEO mengkaji ulang pemikiran bahwa uang adalah ukuran tertinggi (ultimate) sukses nasional".

Pertanyaan di atas, seperti tertulis dalam laporan yang ditulis Rana Foroqhar, seolah menggugat hukum penting ekonomi yang mengatakan bahwa "kesejahteraan (well-being) merupakan fungsi sederhana penghasilan". Artinya, makin tinggi penghasilan, makin bahagia, demikian pula sebaliknya. Kini, kebahagiaan tidak lagi dipandang sederhana dengan melihat "apa yang sudah kita punya, tetapi-misalnya saja-apakah kita punya lebih banyak dibandingkan dengan tetangga".

Dengan berubahnya tafsir atas kebahagiaan, para pembuat kebijakan kini banyak menyelidiki apa sesungguhnya yang membuat rakyat bahagia dan bagaimana mereka bisa menghadirkan itu bagi rakyat. Kini, negara seperti Bhutan, Australia, China, Thailand, dan Inggris, telah memperkenalkan "Indeks Kebahagiaan" untuk digunakan bersama dengan produk domestik bruto (PDB) guna mengukur kemajuan satu masyarakat.

Para peneliti kebahagiaan terkemuka dunia saat berkongres di Roma belum lama ini memperdebatkan apakah sukacita itu bisa diukur, momentum untuk melangkah ke "negara bahagia" (well-being state) tampaknya sudah tak terbendung lagi. Musim panas ini, sejumlah tokoh penting, mulai dari Perdana Menteri Turki, ekonom kepala di Bank Dunia, dan pimpinan Google, akan bertemu untuk membahas cara guna beralih dari PDB sebagai ukuran kemajuan manusia.

Di era 1980-an, misalnya, slogan yang acap kita dengar adalah workaholic guna melukiskan bagaimana manusia demikian keranjingan kerja. Kini pun tema kompetisi banyak diangkat untuk memacu karyawan agar bekerja lebih keras lagi. Pada sisi lain, yang juga telah banyak berkembang di negara maju, kalangan pekerja dan eksekutif top justru mulai mengendurkan laju kehidupan. Mereka mengatakan rela mendapat penghasilan lebih sedikit asal bisa menikmati hidup lebih nyaman, bisa punya waktu lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga, dan mengerjakan hal yang menyenangkan hati.

Buku-buku bertema How to Simplify Your Life atau How to Live A Simple Life karangan Elaine St James sempat menjadi bacaan yang menggugah. Namun, sekali lagi, tarik-menarik pastilah terus berlangsung antara hidup sederhana yang nyaman versus hidup dalam kelimpahan materi yang memberi kebebasan luar biasa. (Ninok Leksono) http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/16/utama/3535646.htm

*makasih Oom Mas Bagus untuk kiriman emailnya…. ;)*

No comment »

sekedar mengingatkan (diri sendiri) saja …

Selasa, 22 Mei 2007 / 05 Jumadil Awal 1428 H

HADIST  HARI INI

Larangan Memutuskan Silahturahmi

Rasululloh SAW pernah bersabda :
"Tidak halal bagi seseorang mukmin untuk mendiamkan (tidak mengacuhkan/bertegur sapa) dengan saudaranya (sesama mukmin) lebih dari tiga hari, keduanya bertemu yang satu berpaling dan yang ain juga berpaling.
Sedangkan yang paling baik dari keduanya adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam".

(H.R. Al Bukhari, dalam pembahasannya mengenai adab)

*thanks fit… miss u ;). Assalamu’alaikum semuanya… :)*

No comment »

inacraft 2007

gak ada yang dibeli di pameran ini selain hanya membeli hiasan dinding kerang2 gt. inacraft 2007, pergi bareng neng Op. ijin dari kantor pulang cepat, hehe. 

barangnya juga mahal-mahal. hehehe.

padahal kainnya bagus-bagus tuh. ;)

No comment »

katanya sich longwiken.. :D

kamis

jumat

sabtu

minggu

4 hari, mo kemana ya? mo ngapain ya?

awalnya gak ada rencana sama sekali ampe pada akhirnya

satu dua tiga rencana mulai disusun…

skenario mulai dirancang…

tapi emang ya manusia cuma bisa berencana, yang nentuin tetep yang Dia.

kalo gak ini bakal itu

kalo gak kesini bakal kesitu

kalo gak bareng ini bakal bareng itu

insyaAllah,

akhirnya kamis kemarin gw cuma dirumah aja…

mengerjakan pekerjaan rumah (bukan tugas matematika atau pelajaran lainnya.. hehehe.)

memasak, mencuci, membereskan pakaian yang perlu dirapikan, dll

ampe akhirnya janjian ama neng Op cancel

pengen istirahat di rumah aja… tidur, nonton film dan melakukan apa yang bisa dilakukan. hehe.

secara hujan deras pula kemarin dan geludug menggelegar aja gt. ngerii…

jumat ini, berniat melanjutkan pekerjaan kantor yang gw bawa kerumah.. secara janji mo submit hari seninnya. hehehe.

dan beres2in apa aja yang perlu dibawa untuk hiking sabtu minggu.

insyaAllah jadi naek ke Gede Pangrango ama Ela and beberapa teman2 lainnya. ;)

kangen udara segar pegunungan.. ehmmmm… semoga gak ada halangan.

kangen nambah temen2 baru… semoga gw menemukan teman2 baru yang menyenangkan disana…

kangen mengagumi kebesaran 4JJI dengan melihat semua yang ada disana nanti…

semoga…

dan ini berarti, udah minggu ke-4 gw gak ngaji di gumati. hehehe…

buat semua…

HAVE A NICE LONG WEEKEND yaa…

SEMOGA HARI-HARINYA MENYENANGKAN…

No comment »

Indah pada waktunya

Apa yang sedang kamu alami sekarang !?
Sukacita, dukacita, kesengsaraan, patah hati, dsb. Apa kamu pernah mengalami hal-hal tersebut ? Sudah tentu pasti, bukan!

Hidup ini tak selalu pahit, pasti ada manisnya koq. Engkau tak selalu
mendapatkan warna hitam, pasti suatu saat nanti akan mendapat warna biru,putih, ato pink. Yang penting bagaimana hatimu menyikapinya. Tuhan sesungguhnya melihat sikap kita. Bagaimana kita menyikapi semua keadaan ini. Ingat, sikap itu adalah kuas cat dari pikiran. Warna apa yang akan kita berikan dalam menyikapi suatu pencobaan!? Hitam yang berarti kebencian atau biru yang
berarti pengharapan.

Yang berperan penting dalam semua tindakan kita ini adalah hati.
Bagaimana kita menerimanya, juga bagaimana kita melampiaskannya.
Guys…. bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki sekarang. Di dunia ini, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita suka. Oleh sebab itu, sukailah apa pun yang kita dapatkan. Kualitas hati tertinggi adalah untuk selalu mengucap syukur kepada-Nya. Jika kau tak memperoleh apa yang kau suka atau yang terjadi itu di luar kehendakmu, renungkanlah! Pasti di balik itu semua ada rencana baik Tuhan yang lebih sesuai denganmu. Karna Tuhan tahu betul bagaimana kepribadianmu. Ia mengenal hatimu. Dan Ia tahu rancangan apa yang
terbaik bagimu. Kita hanya melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat jauh ke dalam hati.

Sesungguhnya hidup ini penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang terbaik dari Tuhan itu sudah ada & dekat pada diri kita, hanya saja kita yang tak pernah menyadarinya. Seperti ikan yang selalu mencari-cari dimanakah air itu, padahal sebenarnya ia sudah berada dan hidup di dalam air itu. Seperti itu juga-lah manusia. Jadi, jangan
khawatir! Bunga Bakung yang tumbuh di lembah saja, diberi keindahan oleh Tuhan, bahkan Raja Salomo pun yang di dalam kemegahannya tak pernah mempunyai baju seindah warna bunga Bakung itu.
So, apa yang kamu takutkan s’karang!?
Hiduplah di dalam Pengharapan & Tuhan pasti akan mengabulkannya.

kiriman dari Dee-An

No comment »